Benteng Liya Togo di Desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara akan ditetapkan jadi Cagar Budaya Dunia. 

Berdasarkan data sejarah benteng liya merupakan salah satu benteng pertahanan terluar dari kesultanan Buton yang melindungi benteng wolio dari serangan kerajaan ternate dan gangguan lainnya yang dapat merusak stabilitas benteng wolio sebagai pusat pemerintahan kesultanan Buton.

Akses menuju kawasan benteng liya di tempuh dengan jarak sekitar 9 km dari pelabuhan wanci, dengan menggunakan kendaraan seperti mobil dan motor dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Setelah masuk di gerbang benteng kita akan melihat perkampungan warga eks dari keturunan perangkat benteng liya yang berada di dalam kawasan benteng, maupun sekitar luar benteng.

Kondisi Struktur benteng yang ada di benteng liya masih cukup baik. Bahan yang digunakan pada pembuatan benteng liya yaitu batu batuan dan karang karang dari laut, dan sebagai alat perekatnya yakni putih telur.

Kompleks intinya sendiri berada di posisi tertinggi. Dengan bentuk gerbang khas buton, atau disebut lawa dalam bahasa buton, dan arsitektur baruga yang sama dengan kompleks di tempat lain. Ada Mesjid Mubarak disisi barat dan baruga, atau semacam balairung, di sisi timur. Di Utara terdapat kompleks pemakamanan. 


Yang terkenal disini adalah Makam Talo-Talo.Talo-talo adalah seorang pemuda biasa yang memiliki kesaktian mandraguna. Beliau juga dikenal dengan sebutan Malan Sahibu yang artinya kurang lebih sebagai orang yang berkarakter keras dan bila berperang dia akan bertarung sampai titik darah penghabisan serta meluluhlantakan semua lawannya. Menurut legendanya, beliau ini saat mudanya sering berlatih meloncat di Baliura. Batu ini dipercaya sebagai inti atau asal usul Desa Liya Togo. Karena keahliannya meloncat ini, maka pada Kesultanan Buton mengirim beliau untuk menyelesaikan konflik di Batara Muna. Batara adalah konsep negara bagian di jaman pemerintahan Sultan Buton. Talo-talo menyelinap dengan melompati benteng Muna dan berhasil membunuh Raja Muna saat itu. Sebagai hadiah, Talo-talo diberikan daerah Liya Togo sebagai daerah kekuasaannya. Hingga sekarang beliaupun dimakamkan di komplek dalam benteng Liya Togo. Satu lagi legenda yang menarik sehubungan dengan benteng ini adalah Baliura. Bagi siapa yang menyentuh batu ini dipercaya akan kembali ke Togo. 


Meriam yang ada dalam kawasan benteng liya sangat banyak dan sebagian posisinya sudah berpindah tempat aslinya.Makam makam yang ada cukup banyak, Juga ditemukan makam  dengan panjang makam sekitar 8 meter yang merupakan makam La Melangka Tu’u (Artinya: makam orang yang panjang lututnya) yang dikenal sebagai orang yang sakti. 





0 komentar :

Post a comment

 
Top