Menara Syahbandar adalah pintu masuk ke Batavia dari arah laut dan sekarang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya. Menara yang dibangun sekitar tahun 1839 ini berfungsi sebagai menara pengawas kegiatan yang ada di laut maupun darat. Menara ini dibangun menggantikan tiang bendera yang berlokasi di Galangan Kapal VOC.


Menara yang memiliki tinggi 18 meter ini merupakan bangunan tertinggi pada masa itu. Untuk mencapai puncak menara, harus melewati 77 anak tangga. Itu sudah termasuk tangga khusus yang menuju atap paling atas. Dalam perjalanan menuju puncak Menara Syahbandar harus berhati-hati saat naik tangga.dan harus melewati ruang-ruang pengamatan yang dihiasi kayu-kayu jati dengan cat warna merah. 



Di lantai tertinggi menara, angin yang berhembus kencang dan dapt menikmati pemandangan Kota Tua Jakarta yang cantik, pemandangan teritorial Kota Tua sehingga kita bisa menikmati keindahan aktivitas para penghuninya. Ornamen-ornamen kayu dalam bangunan menara menambah daya tarik bangunan yang bercirikan arsitektur Belanda ini. Namun, karena usianya yang sudah 168 tahun, Menara Syahbandar memang sudah miring dari porosnya namun masih aman untuk dinaiki




Sebelum masuk ke dalam menara berlantai tiga, kita dapat bernostalgia bersama meriam-meriam kuno dan bangunan-bangunan yang ada disekitarnya. Ada bangunan yang dimanfaatkan sebagai gudang navigasi. Ada bangunan tempat kantor transaksi perdagangan. Ada juga tempat kantor pabean (beacukai) yang berada di sebelah timur meara. Tentu saja, masing-masing peran itu kini sudah tidak ada lagi. Sekarang, mereka telah menjadi gedung pendukung Menara Syahbandar yang terus dilestariakn keberadaannya.


Menara Syahbandar masuk ke dalam bagian Museum Bahari. Di halaman menara kita dapat menemukan dua buah prasati.  Prasasti pertama menunjukkan kalau di tempat inilah titik nol kilometer kota Jakarta yang dulu bernama Batavia. Prasasti kedua menceritakan tentang seorang saudagar China yang berdagang ke Batavia pada abad ke-17.

Tiket masuk ke Menara Syahbandar sekaligus Museum Bahari. Menara ini hanya dibuka pada hari Selasa – Minggu pukul 09.00 hingga 15.00, sedangkan Senin atau hari libur nasional tutup.

Dengan menelusuri obyek-obyek sejarah yang ada di Ibu Kota Jakarta, akan membuat cakrawala pengetahuan kita semaikn terbuka dan jelas. Bahwa dalam kesibukan kota Jakarta, masih banyak meyimpan historis perjalanan yang masih berdiri tegap. Bila kita pernah menyaksikan para pengunjung suka hadir di negara Eropa yang mayoritas memiliki cerita yang obyeknya hampir sama dengan yang ada di Jakarta dengan penyajian perjalanan yang mengangkat suatu buadaya dan sejarah eropa, 

0 komentar :

Post a comment

 
Top